Dua Dekade Seni Tradisi Minangkabau di BSTM Unand

PADANG, KLIKPOSITIF -- Bengkel Seni Tradisional Minangkabau (BSTM) merayakan hari jadinya yang ke 20 dengan menggelar panggung pertunjukan, Sabtu (28/9) malam. Tidak lepas dari unsur tradisi, semua dekorasi tempat menggunakan bahan-bahan yang menjadi tombak tradisi Minangkabau seperti bambu dan jerami.

Bambu dinobatkan sebagai simbol kemerdekaan, sedangkan jerami dinobatkan sebagai simbol panen, yang artinya kebahagiaan, dimana hakikatnya dulu masyarakat Minangkabau menggelar aksi pertunjukan di
sawah sebagai bentuk perayaan di hari panen.

BSTM Unand berdiri tahun 90an bergiat dalam bidang seni budaya yang bertahan sampai sekarang ini, dengan berawal dari melirik nilai guna bagi mata kuliah yang umumnya bersangkutan dengan kesenian tradisi. Hingga semakin bertambahnya usia tahun, BSTM semakin menyemarakkan “ketradisian” Minangkabau ke bentuk seni pertunjukan.

Baca Juga

Perayaan ulang tahun BSTM kali ini mengusung tema sejarah berdirinya BSTM itu sendiri.

Tidak hanya tema acara, pengonsepan artistik panggung dan tempat berjalannya acara juga
dikonsep dengan berbagai macam instalasi bambu yang berbeda panjang dan tinggi masing-
masingnya. Di pintu masuk terdapat gapura dari bambu yang disilangtigakan, di sebelah pintu

masuk terdapat rangkiang dari bambu yang beratap jerami, jalan dari pintu masuk menuju
panggung ada instalasi seperti sangkak ayam yang menjulang ke atas, di dalam sangkak ayam
itu terdapat lampu berwarna kuning. Di sisi kiri kanan panggung terdapat instalasi silang-
silangan bambu. Di tengah bagian belakang panggung terdapat logo BSTM itu sendiri dari
instalasi bambu. Hal itu diungkapkan Bima selaku penanggung jawab dekorasi sebagai proses
BSTM itu sendiri dalam berkarya dari tahun ke tahun.

Acara yang dibuka Wakil Dekan III itu juga menampilkan komposisi musik Estetikoestik oleh kelompok seni yang beranggotakan para alumni dari Institut Seni Indonesia Padang Panjang yang berangkat dari
fenomena perempuan di Minangkabau, terutama perempuan Minangkabau yang hidup di
rantau yang secara tidak langsung mengikis peran dan kedudukannya.

Tari piring oleh aliansi seni se-kota Padang mempertunjukkan tari dengan lagak-lagak harimau, pecah piring, dan menari-nari di atas pecahan piring. Gandang tambua massal oleh berbagai komunitas seni.
Penampilan dari BSTM itu sendiri berupa randai kreasi, hoyak galembong, pemutaran video singkat karya-karya BSTM, dan sekaligus launching karya baru BSTM tari pasambahan.

“Acara seperti ini sangat menarik, karena acara tersebut menampilkan beberapa kesenian
Minangkabau yang sudah sangat jarang sekali ditemukan sekarang ini, harapan saya semoga
ke depannya BSTM bisa menjadi ruang atau wadah tempat bertanya-tanya seputar kesenian
Minangkabau dan semoga tahun ke tahun BSTM menyuguhkan acara yang berbeda-beda.”
Ujar Rahmad Andriyadi selaku ketua pelaksana.

“Saya datang tanpa ada ekspektasi tentang kesenian Minangkabau. Acara yang disuguhkan
oleh BSTM sangat menarik dan aku suka, karena telah mengenal budaya Minangkabau. Di
Jerman, kita mempersembahkan tarian yang belum tentu kita sendiri tahu maksudnya. Saya
berharap bisa mempelajari kesenian Minangkabau jika ada kesempatan dan saya akan datang
jika ada acara yang seperti ini lagi.” Kata Omellychee salah seorang penonton berdarah
Jerman.(*)

Tulisan ini merupakan kiriman dari netizen : Muhamad Irfan

Baca Juga

Penulis: Eko Fajri